Politik Dari Akar Rumput sampai Menara Pembangunan (Menggagas Kaum Muda Sebagai Centre Of Excellence Aceh)
Dunia adalah sebuah entitas yang ditandai
dengan berbagai perubahan-perubahan, namun tidak ada perubahan dalam arus besar
dunia itu yang tidak digerakkan oleh politik pemuda. Dalam sejarah bangsa
manapun, mencatat bahwa pemuda mengambil tempat maha penting dalam perubahan
tersebut. Indonesia mengenal Sumpah Pemuda, kita juga tahu bagaimana seorang
pemuda bernama Tan Malaka, Sutan Sjahrir, Bung Karno dan Hatta menggerakkan
segala sumberdaya memerdekakan Indonesia. Kita juga mengenal Teuku Nyak Arif,
putra Aceh yang dengan gagah merasionalkan dihadapan orang banyak bahwa kita semua
harus bersatu untuk Indonesia yang satu, bukan berpecah belah. Semua mendengar, membaca dan merekam bahwa pemuda adalah roda
gerak sejarah, dulu, kini dan akan datang.
![]() |
Sumber : Google |
Kaum Muda dan
Martabat Aceh
Aceh adalah dinamika dan dialektika yang tidak
pernah usai. Heroisme dan kecintaan pada Bangsa bernama Indonesia adalah
matahari dan udara dalam cerita panjang Aceh. Aceh Mengalir dalam darah,
terhirup dan keluar dari nafas-nafas peradaban dari masa kemasa dalam berbagai
riak, gelombang dan kemelut, sunyi, senyap dan tentram menenangkan di hembusan
angin perubahan. Banyak yang telah berubah dari Aceh, perjalanan panjang dari
konflik menuju damai, dan hantaman maha dahsyat tsunami telah membawa Aceh
dalam tranformasi baru, transformasi menuju perubahan kedepan, bukan
tranformasi mundur kebelakang. Dalam berbagai kisah panjang perjalanan
tersebut, pemuda adalah bagian yang punya cerita sendiri yang sangat menentukan
kemudi perahu besar bernama Aceh, guna menuju lautan lepas, lautan tanpa batas
untuk kesejahteraan dan kemakmuran.
Pemuda Aceh hadir dan mengambil peran dalam
berbagai dinamikan dan dialektika Aceh. dan gerak energi pemuda selalu berperan
dalam berbagai alur tersebut. kita tidak membicarakan bahwa kita
mengungkit-ngungkit lagi masa lalu ketika kita ingin membangun masa depan. Tidak,
ini adalah cerita tentang kiprah pemuda Aceh yang tak akan lekang tercatat
sejarah. Pemuda Aceh memperjuangkan dua kata paling menghentak dan paling
mengharukan dalam sejarah Aceh yaitu “martabat” dan “kebebasan”. Ketika
martabat Aceh berada di titik nadir, pemuda Aceh melalui berbagai gerakannya
mengangkat kembali martabat Aceh kemenara puncak peradaban yang ingin di bangun
Aceh.
Ketika kebebasan adalah adalah sesuatu yang
sangat sulit didapat di Aceh, pemuda Aceh tampil sebagai martir yang berani
meledakkan benteng penghalang kebebasan. Ketika Aceh berada dalam ketidak
bebeasan akibat ketakutan, pemuda Aceh tampil dengan sangat berani menyemangati
dan memberikan penyadaran kepada rakyat melalui berbagai pendidikan politik
akar rumput yang dilakukan dengan menyuarakan bahwa “kebebasan” dan merdeka
dari berbagai ketakutan adalah hak asasi manusia yang paling esensi dari
keberadaaan manusia. Sejarah Aceh mencatat lahirnya tokoh-tokoh pemuda dalam
berbagai gerakan politik yang mereka lakukan dengan satu tujuan “pembebasan”
untuk kehidupan yang “adil” dan
“bermartabat” bagi Aceh, dari gerakan politik yang dilakukan pemuda ini
lahir berbagai wadah gerakan politik pemuda seperti SMUR, FARMIDIA, KARMA,
Pemraka, SIRA, Wakampas, SMIPA dan lain sebagainya.
Kaum Muda dan
Pembangunan Aceh
Matahari damai telah terbit di Aceh, namun
gerakan politik pemuda tetap terus berkesinambungan, sekalipun dalam garis yang
kadang terputus-putus, ketika dulu pemuda/I Aceh melakukan gerakan politik
dalam desingan peluru, maka paska damai, sekalipun sesekali berada dalam aroma ketegangan,
namun kondisi damai membuat pemuda lebih leluasa bergerak dalam melakukan
pilihan alur gerakan politiknya untuk mengawal, mengisi dan berkontribusi
membangun Aceh untuk keberlanjutan perdamaian.
Mou Helsinki, 15 Agustus 2005 adalah anugerah
tak berbanding bagi Aceh. menjaga damai berlanjut dan mengisi perdamaian dengan
pembangunan yang berkesejahteraan adalah ruh semesta Aceh saat ini dan sekali
lagi pemuda mengambil peran penting mewujudkan keniscayaan ini.
Sejatinya, pembangunan adalah untuk pembebasan,
dan demokrasi adalah untuk kesejahteraan. Seperti disebutkan oleh Amartya Sen
(Pemenang hadiah Nobel Ekonomi 1998), dalam risalahnya Beyond the Crisis : the Development Strategies in Asia, yang
diterbitkan oleh Institute of South East Asian Studies, 1999 yang kemudian
diterjemahkan menjadi Demokrasi bisa
memberantas Kemiskinan (Mizan , 2000), sen berbicara tentang pentingnya
kebebasan. Sen menunjukkan betapa pentingnya kebebasan dan hak politik
masyarakat. Keduanya dapat mencegah terjadinya petaka politik dan ekonomi yang
lebih buruk. Karena itu pembangunan harus dilihat sebagai sebuah proses
peningkatan berbagai jenis kebebasan manusia yang secara intrinsic penting bagi
dirinya. Kebebasan membutuhkan beragam lembaga yang baik. Dalam konteks ini,
kebebasan harus dilihat sebagai tujuan akhir sekaligus instrument dari
pembangunan. Pembangunan sebagai pembebasan dalam pengertian Sen diatas adalah
seharusnya dengan pembanguna bisa membebaskan rakyat dari kemiskinan dan bisa
memberikan kesejahteraan.
Tugas dan peran pemuda Aceh melalui berbagai
gerakan politiknya dalam masa damai ini adalah memastikan bahwa pembangunan
yang dilakukan pemerintah Aceh paska damai adalah benar-benar untuk kesejahteraan. Saya melihat bahwa hanya
gerakan politik pemuda yang bisa melakukan ini, karena kita semua sepakat
berdiri di satu titik berangkat bahwa, apapun kondisinya , bagaimanapun situasinya
“pemuda adalah pelanjut estafet
kepemimpinan dan pelanjut peradaban Aceh”.
Dan selama ini, paska damai Aceh, pemuda Aceh
telah membuktikan ini, mereka telah menempatkan diri dalam “kesadaran kelasnya” sendiri menentuka
arah pilihan gerakan politiknya untuk memastikan pembangunan untuk
kesejahteraan terwujud. Pemuda telah menghimpun diri kedalam berbagai elemen,
tempat mereka bisa berperan dalam mengisi pembanguna Aceh, diantaranya :
1. Para pemuda
yang telah mengambil peran melakukan kontrol dan pengawasan para pemimpin Aceh,
melalui partai politik, beberapa diantaranya telah terpilih sebagai anggota parlemen
di provinsi, kabupaten kota di Aceh.
2. Pemuda yang
mengambil peran dalam Organisasi Masyarakat Sipil, yang selalu melakukan
koreksi dan memberikan masukan dalam taraf kehidupan demokratisasi yang lebih
baik.
3. Perkumpulan
paguyuban-paguyuban, yang merupakan kekuatan utama para pemuda daerah
masing-masing dalam mengawal pembangunan
Aceh untuk kesejahteraan.
4. Mahasiswa,
dengan berbagai kesadaran kritisnya adalah sebuah bentuk gerakan pemuda idealis
paling penting dalam memberikan kontribusinya mengawal pembangunan Aceh.
Kaum Muda
Sebagai Centre of Excellence Aceh
Melihat gerak dan peran pemuda seperti
tergambar diatas, maka terlihat betapa urgen dan maha penting peran politik
pemuda dalam menata masa depan Aceh. sehingga kita dapat menyimpulkan bahwa
masa depan Aceh sejatinya ada pada “ide”,
“ruang gerak” dan “kreatifitas” pemuda Aceh. namun yang
harus dilakukan saat ini adalah bagaimana menghimpun dan menyatukan potensi
maha dahsyat pemuda yang tersebar dimana-mana tersebut kedalam sebuah “pusat unggulan” (Centre of Excellence)
Aceh, pusat unggulan ini ibarat “pencerah” bagi masa depan Aceh dan KNPI Provinsi
Aceh sebagai sebuah wadah pemuda adalah posisi yang sangat tepat dan penting untuk
mewujudkan Centre of Excellence Aceh
ini.
Pemuda –pemudi Aceh dari berbagai elemen
apakah dari partai politik (politisi), mahasiswa, akademisi, pelajar, seniman,
budayawan, birokrat muda, professional muda, pengusaha muda, aktifis dari
berbagai daerah di Aceh yang cerdas, ulet, pekerja keras bisa disatukan kedalam
sebuah “pusat keunggulan” ini, mereka
nantinya akan menggodok dan melahirkan berbagai gerakan politik dan kebudayaan
di Aceh sehingga bisa melahirkan duplikasi
dan standarisasi yang sama dalam
gerakannya diseluruh Aceh sehingga cita-cita bahwa pembangunan adalah untuk
kesejahteraan terwujud di Aceh. Abadilah pemuda-pemudi Aceh !.
Tulisan ini mendapatkan juara 3 dalam lomba menulis yang diadakan oleh KNPI Aceh dalam rangka HUT Kemerdekaaan Republik Indonesia ke 69, 4 September 2014